Cedar … Sepenggal Cinta Buat Nafisah
mmm..really a such great story.. this is from my sista in
Pontianak …
Sepenggal Cinta Buat Nafisah
Cedar,040404
Dari: Syailendra
Aku tak tau apakah kertas ini
kan segera kukirim kepadamu ataukah kutunggu hingga setitik keberanian muncul dihatiku, lalu ku letakkan diatas sekeranjang cinta yang telah kusiapkan untukmu.
"Oh pujangga, ajari aku cinta yg gila", pintamu "sungguh, tak ada kebahagiaan yg paling berkilau di muka bumi ini kecuali menemukan untaian mutiara dibalik sayap-sayap cinta yg penuh misteri & teramat jauh dari angan-angan logika". Aku terdiam. Kau membisu. Dan waktu berlalu tanpa memberi tahu.
"Nafisah, apa yang kau inginkan dalam hidupmu?", "Aku ingin menjadi orang yg tamak. Ketamakan adalah obat paling mujarab untuk membunuh kemalasan. Jadilah orang yg rakus. Raih impianmu! kesempatan emas hanya datang sekali dalam hidup. Karenanya, jangan menunggu terlalu lama hingga ia memudar menjadi perak."
"Ubahlah setiap ancaman yg datang menjadi sebuah peluang emas. Jangan pernah merasa matang, teruslah bertumbuh. Jika kau merasa telah berada di puncak, maka saat itulah kau takkan bisa kemana-mana. Hidup ini seperti perlombaan tikus. Siapa yg cerdas ia akan berhasil keluar lebih dulu sebelum yg lain sempat menyadarinya. Bukankah begitu, Pujangga?" Aku merenung. Dia tersenyum. Senja temaram mentertawai keluguanku.
"Apa arti cinta bagimu, Pujangga?", tanyanya memecah kesunyian malam. "Cinta yg agung duduk di tempat yg terlindung dalam dadaku. Itulah cinta yg indah yg dengannya aku merubah kesedihan menjadi kegembiraan. Dan aku rela berkorban demi orang yg kucintai.", " Naf, siapa yg paling kau cintai di dunia ini?" (aku berharap itu aku). "Tentu saja orang-orang miskin. Kau tau penyair, di negeri ini mereka selalu dijadikan mata pencaharian bagi LSM yg berteriak atas nama mereka. Mereka dijadikan komoditas ekspor pemerintahku dengan mengirimnya sebagai budak di negeri orang demi menghasilkan devisa negara. Mereka di eksploitasi di jalanan, di pabrik, di rumah bordil, dll.".
"Mereka menjadi objek kekerasan. Banyak yang terpaksa menjadi pencuri karena nasinya dicuri. Kekerasan itu sengaja diciptakan oleh negara. Dan tanpa mereka, tak kan pernah ada orang kaya. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka orang-orang yg mulia. Aku mencintai mereka."
Aku hening sejenak. Kata-katanya meresap di otakku. Lalu dia bertanya, "Sejak kapan kau menjadi seorang penyair?", pikiranku menerawang. Jauh.
"Dulu aku ingin menguasai dunia dengan kekayaanku. Dan aku mati-matian
mengejarnya. Setelah kaya, semua orang mengerubungiku laksana semut mengincar gula. Aku memiliki segalanya, cinta, teman, kesenangan. Tapi ketika hartaku pergi, yg lain berlalu dariku. Kini aku sadar, uang hanya bisa membeli kawan,bukan sahabat. Ia dapat membeli kesenangan, tidak kebahagiaan. Dan tak pernah ada cinta sejati di dunia ini. Lalu kuputuskan tuk merubah hidupku. Aku berkelana ke seluruh negri tuk mencari cinta sejatiku".
"Sudahkah kau temukan?", "Belum. Tapi akan segera kutemukan. Akan kuberikan sepenggal cintaku yg lebih murni dari berlian yg berkilau. Aku berharap ia mau menerimaku".
"Hm, aku sedikit beruntung. Aku telah menemukan cintaku. Dialah kekasih sukmaku. Cinta itu harus saling memberi & menerima, bukan saling menuntut! Aku beruntung memilikinya. Dialah cinta sejatiku". Aku terhentak. Sakit. Sedih. Mati.
Itulah pertemuan terakhirku dengannya sebelum meninggalkan Narayan. Kini hariku sepi, malamku sunyi tak bertepi. Hanya rembulan malam yg setia menemani kesedihanku.
Oh, biarlah kan kujaga agar rembulan itu tetap bersinar di hatiku. Walau kutahu, tanganku tak mampu menggapai sang rembulan.
Buat : Nafisah,
Penuh Cinta