Archive for May, 2006

Cedar … Sepenggal Cinta Buat Nafisah

Monday, May 15th, 2006

mmm..really a such great story.. this is from my sista in

Pontianak

Sepenggal Cinta Buat Nafisah

Cedar,040404                     

Dari: Syailendra

Aku tak tau apakah kertas ini

kan

segera kukirim kepadamu ataukah kutunggu hingga setitik keberanian muncul dihatiku, lalu ku letakkan diatas sekeranjang cinta yang telah kusiapkan untukmu. Aku hanya berusaha merajut kembali kisah kita seribu tahun lalu, saat dimana kepedihan terlalu manis tuk dilupakan. Narayan, tempat kita bertemu pertama kali. Kau bertanya, "Penyair, apakah kau seorang pencinta palsu atau pencinta sejati?" "Aku tak tau. Tapi akulah pencinta yang gila. Dalam kegilaan cintaku, aku menemukan kebebasan yg tiada tara indahnya. Aku bahagia menjadi pencinta yg gila, yg diasingkan oleh mereka, dipuja sekaligus di nista".
"Oh pujangga, ajari aku cinta yg gila", pintamu "sungguh, tak ada kebahagiaan yg paling berkilau di muka bumi ini kecuali menemukan untaian mutiara dibalik sayap-sayap cinta yg penuh misteri & teramat jauh dari angan-angan logika". Aku terdiam. Kau membisu. Dan waktu berlalu tanpa memberi tahu.
"Nafisah, apa yang kau inginkan dalam hidupmu?", "Aku ingin menjadi orang yg tamak. Ketamakan adalah obat paling mujarab untuk membunuh kemalasan. Jadilah orang yg rakus. Raih impianmu! kesempatan emas hanya datang sekali dalam hidup. Karenanya, jangan menunggu terlalu lama hingga ia memudar menjadi perak."

"Ubahlah setiap ancaman yg datang menjadi sebuah peluang emas. Jangan pernah merasa matang, teruslah bertumbuh. Jika kau merasa telah berada di puncak, maka saat itulah kau takkan bisa kemana-mana. Hidup ini seperti perlombaan tikus. Siapa yg cerdas ia akan berhasil keluar lebih dulu sebelum yg lain sempat menyadarinya. Bukankah begitu, Pujangga?" Aku merenung. Dia tersenyum. Senja temaram mentertawai keluguanku.
"Apa arti cinta bagimu, Pujangga?", tanyanya memecah kesunyian malam. "Cinta yg agung duduk di tempat yg terlindung dalam dadaku. Itulah cinta yg indah yg dengannya aku merubah kesedihan menjadi kegembiraan. Dan aku rela berkorban demi orang yg kucintai.", " Naf, siapa yg paling kau cintai di dunia ini?" (aku berharap itu aku). "Tentu saja orang-orang miskin. Kau tau penyair, di negeri ini mereka selalu dijadikan mata pencaharian bagi LSM yg berteriak atas nama mereka. Mereka dijadikan komoditas ekspor pemerintahku dengan mengirimnya sebagai budak di negeri orang demi menghasilkan devisa negara. Mereka di eksploitasi di jalanan, di pabrik, di rumah bordil, dll.".
"Mereka menjadi objek kekerasan. Banyak yang terpaksa menjadi pencuri karena nasinya dicuri. Kekerasan itu sengaja diciptakan oleh negara. Dan tanpa mereka, tak kan pernah ada orang kaya. Merekalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka orang-orang yg mulia. Aku mencintai mereka."
Aku hening sejenak. Kata-katanya meresap di otakku. Lalu dia bertanya, "Sejak kapan kau menjadi seorang penyair?", pikiranku menerawang. Jauh.
"Dulu aku ingin menguasai dunia dengan kekayaanku. Dan aku mati-matian
mengejarnya. Setelah kaya, semua orang mengerubungiku laksana semut mengincar gula. Aku memiliki segalanya, cinta, teman, kesenangan. Tapi ketika hartaku pergi, yg lain berlalu dariku. Kini aku sadar, uang hanya bisa membeli kawan,bukan sahabat. Ia dapat membeli kesenangan, tidak kebahagiaan. Dan tak pernah ada cinta sejati di dunia ini. Lalu kuputuskan tuk merubah hidupku. Aku berkelana ke seluruh negri tuk mencari cinta sejatiku".
"Sudahkah kau temukan?", "Belum. Tapi akan segera kutemukan. Akan kuberikan sepenggal cintaku yg lebih murni dari berlian yg berkilau. Aku berharap ia mau menerimaku".
"Hm, aku sedikit beruntung. Aku telah menemukan cintaku. Dialah kekasih sukmaku. Cinta itu harus saling memberi & menerima, bukan saling menuntut! Aku beruntung memilikinya. Dialah cinta sejatiku". Aku terhentak. Sakit. Sedih. Mati.
Itulah pertemuan terakhirku dengannya sebelum meninggalkan Narayan. Kini hariku sepi, malamku sunyi tak bertepi. Hanya rembulan malam yg setia menemani kesedihanku.

Oh, biarlah kan kujaga agar rembulan itu tetap bersinar di hatiku. Walau kutahu, tanganku tak mampu menggapai sang rembulan.

Buat : Nafisah,
Penuh Cinta

Lu’ uwatun Nafisah fi naili Saadatil Abadiyah

Saturday, May 13th, 2006

Seseorang merindukan apa sesuatu apa yang hilang dalam dirinya (pinjem statement dari sebuah cerpen)
Itu yang terjadi ama vi….

Kepada seorang yang pernah isi hari-hari vi….mengenalkan hakikat kebenaran.. menggambarkan kebahagiaan hakiki….yang Allah tunjuk membantu vi melihat dan menuju ajaran leluhur hingga Baginda SAW…
Yang mengajarkan arti cinta….
Kepada teman sekaligus guru bagiku…

Man sakan wusythal galby….
Musytaq haqqan ilaika ya sayyidi…

Cinta… Munajat… Sabar…Syukur
Lu’ uwatun Nafisah fi naili Saadatil Abadiyah


Monday, March 21, 2005

my Aba my Hero…

Saturday, May 13th, 2006

tadi siang, ada satu pelajaran bermakna. dan lebih kufahami. di saat beberapa hari ini dalam keadaan membingungkan karena satu hal. ada satu hal pula yang akhirnya memberikan kesejukan dan kesenangan…
Aba, lebih dari 21 tahun aba bekerja seperti ini…baru….kurasakan bekerja bersama aba full day di tokonya…biasanya cuma setengah hari…karena beberapa hari ini aba gak ada hadam…akupun harus menjadi hadamnya….hehe…
banyak nilai dan arti selama kuperhatikan aba di tokonya…
aku tahu pasti aba penuh lelah…capek bangettt….tapi…., dia hebat!!! setelah pulang ke rumah, tidak sedikit pun capeknya terlihat! tatapannya selalu penuh cinta dan bahagia…
aba, apa kesenangan pribadi yang didambanya? tidak pernah dia pergi bersenang bersama orang lain bahkan teman, kecuali berbahagia bersama kami…
aneh…dia bilang, kesenangannya hanya melihat anak-anaknya…
aneh…dia rela tanpa pamrih bercapek-capek selama itu…tidak untuk memuaskan kepentingan dirinya…aku yakin, karena ikhlasnya, dan yang dicari tidak sekadar materi…
aba, malu…aku belum bisa beri bahagia…tapi…terimakasih untuk cinta…karena itu bahagiaku…untuk selamanya…

aba, terimakasih untuk pelajaran bekerja keras…
aku harus bisa bekerja keras pula untuk cucu cicit aba kelak….
aba…tetap jadi motivator diri ini…
aba…ajarkan terus untuk selalu berfikir positif…
aba…ajarkan terus untuk jalani hidup ini apa adanya…
karena aba…kau selalu ajarkanku jujur…tanpa dusta… (JUJUR ITU MUJUR…thats ur keywords)
aba…terimakasih untuk segalanya…
karena aba…you are my aba, you are my hero


Tuesday, March 29, 2005